http://winest-wirmayani.blogspot.com/2013/04/budaya-galau-mahasiswa-vs-tipologi-dosen.html

Senin, 16 Maret 2015

Kini Ku Akui, Akulah Pencurinya


“Ternyata berpura-pura tidak mencintai jauh lebih
sulit daripada berpura-pura mencintai”

Mentari pagi mengintipku dari celah jendela, seolah membangunkanku dari buaian tidur semalam. Aku berbegas bangkit dari tempat tidur lalu mencakupkan tangan untuk menyampaikan ucapan terima kasih kepadaMu, Sang Pencipta. Sambil melantunkan beberapa pujian, berharap agar Engkau tahu betapa aku mengagumi kuasaMu dan betapa aku mensyukuri hikmatMu. Tak lupa pula kupanjatkan doa untuk mahadewa dan mahadewi duniaku yang telah membesarkanku dengan penuh kasih, kepada para leluhur, guru pengajian dan guru wisesa juga tak luput kuselipkan sebait doa teruntuk Sang Dewa yang berada di bhur loka.
Secangkir kopi turut menghangatkan pagiku. Tak butuh waktu lama buatku untuk menyeruputnya. Aku sudah sangat akrab dengan minuman berwarna gelap itu, bahkan ia seolah bisa memaksimalkan fungsi otakku. Mulailah aku menggerakkan jemariku di atas lembaran putih untuk sekedar menuangkan isi hatiku tatkala tak ada tempat lain yang aman untuk menampungnya. Ya Tuhan, lagi-lagi dia yang ada di benakku. Kenapa semuanya berujung padanya? Dia tak memberiku apa-apa, tetapi mengapa dia tak pernah luput dari ingatanku? Tuhan, aku mulai subjektif. Aku menyadari itu, tapi sulit bagiku bersikap objektif jika dihadapkan dengan hal yang satu ini. Mana mungkin sepucuk SMS lawas yang sangat biasa tapi bisa membuat hariku luar biasa? Ketika membacanya, aku seakan punya kekuatan baru, ada semacam kandungan semangat dari bahasanya yang singkat dan sangat biasa itu. Magis apakah gerangan yang diformulasikan sehingga bisa menghipnotisku sampai sedalam itu? Aku sangat jarang berkomunikasi dengannya. Jangankan secara langsung, lewat media pun, bisa dihitung dengan jari. Tapi mengapa dia yang merajai pikiranku? Aku tak sanggup lagi memendamnya sendiri.
Aku jenuh dengan keberpura-puraanku selama ini seolah tak mencintainya. Masihkah aku bisa berkilah dan mengatakan itu bukan cinta setelah SMS yang sangat singkat dan biasa darinya mampu membuatku senang bukan kepalang? Masihkah itu bisa disebut bukan cinta jika aku ingin selalu tahu aktivitasnya, walau ku tahu tak ada sedikitpun hubungannya denganku? Katanya cinta itu cenderung dekat, tapi mengapa aku merasakan hal itu dengan seseorang yang jaraknya berpuluh bahkan beratus mil denganku? Mengapa aku begitu merindukannya, sedangkan dia mungkin tak pernah sekalipun menginputku dalam benaknya, apalagi merindukanku. Ah, sudahlah.
Tuhan, mungkin Engkau lelah dengan keegoisanku. Aku ingin dia tahu perasaanku tanpa aku memberikan isyarat apapun tentang itu. Aku ingin dia tahu isi hatiku tanpa mengatakan dan menunjukkan apapun kepadanya. Aku ingin dia merindukanku juga, tanpa memberi sinyal-sinyal rindu itu kepadanya. Hingga suatu ketika akupun sadar, dia hanya manusia biasa walaupun ada embel-embel “kedewataan” yang melekat dalam namanya. Dia juga bukan manusia setengah dewa yang memiliki kemampuan melebihi manusia pada umumnya. Dia hanyalah manusia biasa yang luar biasa di mataku. Olehnya, perlu buatku untuk memberitahukan kepadanya walau hanya 15 persen dari totalitas perasaan anehku itu terhadapnya berharap penat di kepalaku sedikit berkurang. Mungkin aku berdosa diam-diam telah mencuri hatinya. Mungkin itu pula sebabnya sehingga aku selalu merasa tak tenang sebelum aku mengakui kepadanya, bahwa akulah pencurinya.
Kuyakinkan tekad dan ku memantapkan pikiran. Aku menginstalasi semua piranti yang terkait dengan perasaanku. Butuh waktu lama buatku mengumpulkan keberanian untuk menyampaikan pernyataan yang terlalu pribadi itu kepadanya. Hanya dengan cara ini dia bisa tahu dan dengan cara ini pula aku bisa melegakan hatiku yang terlampau sesak. Aku mengukir banyak fantasi terhadapnya. Diantara semua fantasi-fantasi itu, kepastianlah yang paling kuharapkan. Aku tak ingin jawaban yang muluk-muluk atau yang berbunga-bunga yang bisa menimbulkan misinterpretasi. Aku hanya butuh jawaban “ya” atau “tidak”.
bersambung...

Sabtu, 21 Februari 2015

Pria Itu Bernama...


Entah mengapa, aku tak henti-hentinya memuji pria yang satu ini. Pria yang begitu dekat denganku. Pria yang selalu mendatangkan kebahagiaan. Pria yang selalu mampu membuatku tertawa walaupun dalam keadaan tersulit sekalipun. Mungkin ini karmaku lahir ke dunia untuk bertemu dan menjadi bagian hidup dari pria bersahaja itu.
Dialah

Selasa, 30 Desember 2014

Aku Pun Berotasi, Kamu?

“Masih terekam sedikit di memori saya tentang pelajaran Tata Surya (Solar Panel) ketika SD dulu. Kala itu yang tersirat di pikiran saya tentang Tata Surya adalah sebatas lingkup galaksi bima sakti saja, bagaimana planet-planet berotasi pada orbitnya masing-masing dan bagaimana pula para planet tersebut melakukan revolusi mengitari matahari. Ya, hanya sebatas itu, tidak ada hal lain.”
Belakangan ini saya menghubung-hubungkan teori Galileo Galilei dengan beberapa skrip drama kehidupan dan ternyata memiliki beberapa persamaan. Fenomena rotasi misalnya. Disadari atau tidak, kita yang merupakan makhluk mulia ciptaan Tuhan ini juga pelaku rotasi itu. Kita mengalami rotasi. Kalau akibat yang ditimbulkan oleh rotasi para planet adalah siang dan malam, kalau dikehidupan biologis ini ya kita semakin bertambah usia alias semakin tua. Nah kalau berbicara tentang rotasi kehidupan, usia saya yang tujuh bulan kedepan nanti akan menginjak angka 23 tahun ini sudah memasuki fase sore, yang tinggal melewati beberapa step lagi akan masuk ke fase final yaitu malam. Oh no!!! (sambil menampar pelan pipi kanan kiri secara berulang).
Memasuki fase sore itu menurut saya merupakan transisi dari masa Brahmacari ke Grhasta (sengaja saya pakai diksi ini agar rekan saya yang tingkat ke-kepo-annya melebihi ambang batas itu menjadi sedikit bingung dengan kata ini) yang memerlukan persiapan-persiapan ekstra untuk menyukseskan masa itu nantinya. Fase ini tidak ada yang namanya try out. Jika kamu tidak maksimal, ya kemungkinan kamu akan gagal di ujian itu. Makanya sangat diperlukan bekal-bekal dan segenap persiapan untuk menjalaninya.
Masih menjelang ke fase sore, jika kita dulunya di kartu keluarga berstatus sebagai anak, maka seiring berjalannya waktu, seperti halnya planet mengalami rotasi, maka tidak menutup kemungkinan akan mengalami perubahan pula. Jika kamu wanita, maka statusmu di kartu keluarga nantinya akan berubah menjadi “istri” dan bagi yang  pria akan menjadi “kepala keluarga”. Sedangkan status “anak” yang kini kita sandang, nantinya akan digantikan oleh makhluk-makhluk mungil ciptaan Tuhan yang akan menyempurnakan kehidupanmu. Ya, itulah gambaran sederhana rotasi kehidupan yang akan aku, kamu, dia dan mereka alami. Semuanya butuh proses, semuanya memerlukan perencanaan dan persiapan matang untuk pencapaian hasil yang maksimal.
Oh iya, saya menemukan sebuah lagu yang sangat indah dari Shania Twain yang berjudul “From This Moment On”. Lagu yang saya pandang tepat untuk mengiringi fase sore. Liriknya yang santun, nadanya yang lembut, serta maknanya yang agung menimbulkan keteduhan tatkala saya mendengarkannya. Walaupun suara saya jauh dari predikat merdu, tapi suatu saat nanti sebelum memasuki masa Grhasta, saya ingin menyanyikan lagu ini spesial untuk satu (and the only one) pria mulia pilihan Tuhan yang kini belum ditemukan itu (I don’t know who will be the answer of my prayer). Kelak kepada dialah saya akan diserahkan sepenuhnya oleh Ayah saya untuk menjalani kehidupan bersamanya hingga fase malam saya berakhir (till the day end).