http://winest-wirmayani.blogspot.com/2013/04/budaya-galau-mahasiswa-vs-tipologi-dosen.html

Jumat, 28 September 2012

Get Me Out!!


Sempat beberapa kali terlintas dalam benak saya untuk pindah kuliah ke luar kota. Iklim kampus yang menurutku tak mendukung, menyebabkan perkembanganku terhambat bahkan nyaris tak berkembang. Sering kali air mataku menetes tatkala menyaksikan dan membaca keakraban dan kekeluargaan yang terjalin pada mahawiswa di salah satu perguruan tinggi yang tetap terjalin kekompakannya walau mereka telah menempuh hidup barunya masing-masing. Rasa kekeluargaan itu rupanya telah tertanam dalam sistem pendidikannya.
Kuliah menurutku, tak sekedar menerima materi saja dari dosen. Tapi bagaimana kita bisa mengaplikasikan pengetahuan tadi melalui pengabdian. Untuk mencapai pengabdian yang bermanfaat secara berkelanjutan, diperlukan kesinergian antara sikap, sifat dan pengetahuan. Ketiga hal ini akan berkorelasi jika sudah diterapkan atau sering dipraktekan dalam kehidupan sosial. Seperti halnya melalui organisasi. Jika komunikasi terjalin baik dalam sebuah organisasi, maka akan diperoleh output seperti perguruan tinggi yang saya sebutkan diatas. Mereka tetap kompak walau sudah berada di lingkungan berbeda. Rupanya komunikasi dan nilai-nilai yang tertanam dalam organisasi, turut menentukan luaran seseorang yang berkecimpung didalamnya.

Jumat, 24 Agustus 2012

Si Kece ini Bernama Habu


Blackberry atau yang lebih akrab disebut BeBe, kini demamnya merambah sangat cepat. Bukan hanya anak golongan tertentu saja yang kepicut, anak muda bahkan orang tua juga ikutan ramai memakai smartphone ini. Dengan berbagai aplikasi dan fitur yang mempermudah akses informasi dan komunikasi, memang layak jika BB menjadi incaran banyak orang. Bahkan dikalangan anak muda ada yang berujar “nggak gaul kalo gak pake BB”. Mendengar kalimat itu, sebegitu ampuhnyakah kekuatan BB?
Ngomong-ngomong tentang BB, begitu banyak hal yang menggelitik menerpa diri saya. Hal itu bukan berarti bersumber dari BB atau bukan berarti saya memiliki BB, melainkan dari teman-teman yang hampir 92 persen menghina kondisi handphone saya. Lontaran hinaan berpadu canda kerap kali saya terima tatkala bersama dengan teman-teman. Walau begitu, Hape yang sangat kronis kondisinya itu, dimata saya menyimpan suatu keunikan tersendiri yang tak dimiliki oleh smartphone walau BB sekalipun. Hape ajaib yang tak tertandingi di dunia dan di akherat inilah biasanya mengundang tawa massal.

Sabtu, 09 Juni 2012

Kualitas tak Jadi Prioritas, Konsistensi Jadi Negasi

"Saya tak begitu butuh dengan segala kebaruan yang ada, karena  itu bukanlah prioritas. Justru yang menjadi kebutuhan primer, itulah yang   tidak terealisasikan. Hal itu terjadi bukan karena masalah finansial, tapi itu semua karena adanya unsur pribadi yang jelas-jelas tidak mengandung cover both side"

Demikianlah adanya. Ketika neraca sudah tak berfungsi sebagaimana mestinya, semuanya menjadi kacau, rancu dan lain-lain. Terlebih lagi ada unsur pribadi didalamnya, membuat mata walaupun sudah memakai kacamata, tak lagi jeli melihat situasi. Kualitas tak jadi prioritas dan konsistensi berubah menjadi negasi. Sungguh sebuah sistem yang rancu. Dimana neraca hendaknya bisa menimbang semuanya dengan seimbang, tapi sudah beralih fungsi. Oleh sebab inilah mulai timbul ketidaknyamanan yang signifikan.
x_3badcda6