http://winest-wirmayani.blogspot.com/2013/04/budaya-galau-mahasiswa-vs-tipologi-dosen.html

Rabu, 06 Maret 2013

Menghadang Regenerasi Korupsi Melalui Pendidikan Anti Korupsi

 Bangsa  Indonesia seolah tak pernah sepi dari pemberitaan kasus korupsi. Itu tercermin dari berbagai media massa yang santer memberikan hal itu. Tak jarang pula, pemberitaan korupsi kerap menjadi headline. Belum tuntas kasus A, tak lama muncul lagi kasus serupa, begitu seterusnya seolah tak menemui titik jenuhnya. Dari beberapa pemberitaan tentang kasus korupsi, sebagian besar aktor korupsi berasal dari partai politik yang memiliki jabatan strategis dalam instansi yang dinaunginya.
Bercermin pada fenomena itu, sejumlah pertanyaan pun muncul. Ada apa dengan iklim politik Indonesia? Mengapa parpol menjadi lahan subur bagi koruptor untuk mengepakkan sayapnya? Apa ada yang salah dengan pendidikan Indonesia? Tak bisakah dunia pendidikan menghadang regenerasi korupsi?
Berangkat dari hal itu, Presiden Republik Indonesia secara khusus menginstruksikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk melaksanakan aksi pengembangan pendidikan anti korupsi pada perguruan tinggi sebagaimana dinyatakan dalam Instruksi Presiden RI Nomor 17 Tahun 2011 tentang Aksi Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi Tahun 2012.
Memang, masuknya Mata Kuliah Pendidikan Anti Korupsi di perguruan tinggi merupakan suatu hal yang perlu diapresiasi. Tapi, perlu diperhatikan juga beberapa komponen yang terkait  dalam hal itu, sehingga kemudian mata kuliah ini bisa memberikan luaran yang baik, sesuai dengan

Senin, 28 Januari 2013

Kerinduan Besar Sang Anak untuk Berdamai


Seekor ayam baru saja menetaskan telurnya. Menjadilah beberapa ekor anak ayam yang lucu dan juga pintar. Mereka dituntun oleh sang induk untuk mengenal kehidupan, mencari makan, hingga membela diri bahkan berlindung tatkala ada bahaya mendekat. Begitu akrabnya keluarga ayam ini, selalu ada canda gurau disetiap langkah mereka. Sang induk pun tak henti-hentinya menuntun anaknya, kelak bisa ia andalkan dan bisa meneruskan cita-citanya.
Seiring waktu berlalu, anak-anak ayam itu mulai tumbuh. Ia tak lagi seperti dulu sewaktu masih kecil. Mereka ingin menemukan jati dirinya, mengeksplorasi segala potensinya, tanpa berpatokan dengan segala peraturan yang seolah telah disusun secara sistematis oleh sang induk. Disitulah hubungan famili itu mulai renggang.
Dari kesenjangannya dengan Sang Induk, anak-anak ayam ini sebenarnya menyimpan suatu hal layaknya hubungan keluarga, ada aspek yang tak mungkin dipisahkan. Suatu kekeliruan memang jika anak-anak ini terkesan menentang induknya. Tapi, dilain sisi anak-anak ini juga mempunyai hak asasi, punya hak berpendapat, bertindak dan juga hak untuk berkembang. Mulailah mereka satu per satu berkelana, hingga masih beberapa ekor saja yang masih bersama Sang Induk.
Kepergian anak-anaknya serta perilakunya yang terkesan menentang,

Jumat, 25 Januari 2013

Jurnal atau PR?


Tak terasa sudah memasuki semester enam. Ternyata sudah 3 tahun lamanya saya berada di Universitas Tadulako. Beberapa hari ini, otak saya sedang mencerna pertanyaan-pertanyaan serupa tapi dari sumber yang berbeda. Sebenarnya hal itu sudah kupikirkan matang dari awal. Tapi entah kenapa, pertanyaan-pertanyaan itu seakan turut mempengaruhi keputusanku.
Ilustrasi PR
Ilustrasi Jurnal
Ya, pemilihan konsentrasi. Pada semester enam, mahasiswa Ilmu Komunikasi sudah menentukan konsentrasinya, Jurnalistik atau Public Relations. Inilah yang menjadi ladang kebingungan mahasiswa seangkatanku. Aku berpikir simpel, kenapa sih perlu dipermasalahkan sampai dengan pertimbangan berat, seberat-beratnya? Toh kedua konsentrasi  itu hanya berbeda tiga mata kuliah saja. Jadi kenapa mesti bingung? Kan itu sesuai dengan minat masing-masing, bukan suatu paksaan. 
Entahlah. Sepertinya ada hal besar yang mendasari kebingungan itu. Ditengah kebingungan mereka, aku telah memutuskan akan ke jalur mana aku pada semester ini dan kedepannya. Menurutku itu bukan pilihan berat. Jadi, tak sulit bagiku untuk menjatuhkan pilihan yang masih kurahasiakan dan mungkin akan membuat kaget beberapa pihak.
Baik Jurnal maupun PR, pada hakikatnya sama saja, tinggal bagaimana kita bersikap dan berusaha agar keduanya bisa “menyamankan” diri kita nantinya. Percuma saja bila menetapkan pilihan pada PR atau Jurnal, toh kita tidak berlatih. Sebab, segala sesuatunya tidak ada yang bersifat instan. Semuanya perlu latihan. Ya, penggabungan antara teori dan action, itulah yang akan menyempurnakan dan memberikan hasil pada perkuliahan ini nantinya. Jadi, baik Jurnal maupun PR, tak perlu sangat dirisaukan. Keduanya akan berdampak baik apabila kita mampu memperbaiki kualitas diri.  
x_3badcda6