http://winest-wirmayani.blogspot.com/2013/04/budaya-galau-mahasiswa-vs-tipologi-dosen.html

Jumat, 24 Agustus 2012

Si Kece ini Bernama Habu


Blackberry atau yang lebih akrab disebut BeBe, kini demamnya merambah sangat cepat. Bukan hanya anak golongan tertentu saja yang kepicut, anak muda bahkan orang tua juga ikutan ramai memakai smartphone ini. Dengan berbagai aplikasi dan fitur yang mempermudah akses informasi dan komunikasi, memang layak jika BB menjadi incaran banyak orang. Bahkan dikalangan anak muda ada yang berujar “nggak gaul kalo gak pake BB”. Mendengar kalimat itu, sebegitu ampuhnyakah kekuatan BB?
Ngomong-ngomong tentang BB, begitu banyak hal yang menggelitik menerpa diri saya. Hal itu bukan berarti bersumber dari BB atau bukan berarti saya memiliki BB, melainkan dari teman-teman yang hampir 92 persen menghina kondisi handphone saya. Lontaran hinaan berpadu canda kerap kali saya terima tatkala bersama dengan teman-teman. Walau begitu, Hape yang sangat kronis kondisinya itu, dimata saya menyimpan suatu keunikan tersendiri yang tak dimiliki oleh smartphone walau BB sekalipun. Hape ajaib yang tak tertandingi di dunia dan di akherat inilah biasanya mengundang tawa massal.

Sabtu, 09 Juni 2012

Kualitas tak Jadi Prioritas, Konsistensi Jadi Negasi

"Saya tak begitu butuh dengan segala kebaruan yang ada, karena  itu bukanlah prioritas. Justru yang menjadi kebutuhan primer, itulah yang   tidak terealisasikan. Hal itu terjadi bukan karena masalah finansial, tapi itu semua karena adanya unsur pribadi yang jelas-jelas tidak mengandung cover both side"

Demikianlah adanya. Ketika neraca sudah tak berfungsi sebagaimana mestinya, semuanya menjadi kacau, rancu dan lain-lain. Terlebih lagi ada unsur pribadi didalamnya, membuat mata walaupun sudah memakai kacamata, tak lagi jeli melihat situasi. Kualitas tak jadi prioritas dan konsistensi berubah menjadi negasi. Sungguh sebuah sistem yang rancu. Dimana neraca hendaknya bisa menimbang semuanya dengan seimbang, tapi sudah beralih fungsi. Oleh sebab inilah mulai timbul ketidaknyamanan yang signifikan.

Rabu, 23 Mei 2012

Bangkit dari Ketertinggalan, Menuju Generasi Emas Indonesia


April kemarin, Badan Standar Nasional Pendidikan  (BSNP) menyelenggarakan Ujian Nasional (UN). Sebuah program yang dilaksanakan untuk mengevaluasi kemampuan siswa. Banyak yang pro akan UN dan menilainya sebagai tindakan efektif sebagai indikator dan parameter penentuan kelulusan siswa. Namunpun demikian, tak dapat dipungkiri banyak pula yang kontra akan hal ini. Menurut kaca mata mereka, UN tidak pantas dijadikan parameter tunggal dalam menentukan kelulusan. Apa artinya mengenyam pendidikan selama 3 atau 6 tahun jika hanya ditentukan oleh nilai UN. Bagaimana dengan perolehan nilai raport, apakah hanya sebatas konseptualisasi belaka? Itulah beberapa komparasi kiranya menjadi pertimbangan kemdikbud hingga metode UN dua tahun terakhir mengalami revisi. Mulanya, UN diindikasikan sebagai satu-satunya parameter penentu kelulusan, tapi
x_3badcda6