April
kemarin, Badan Standar Nasional Pendidikan
(BSNP) menyelenggarakan Ujian Nasional (UN). Sebuah program yang dilaksanakan
untuk mengevaluasi kemampuan siswa. Banyak yang pro akan UN dan menilainya
sebagai tindakan efektif sebagai indikator dan parameter penentuan kelulusan
siswa. Namunpun demikian, tak dapat dipungkiri banyak pula yang kontra akan hal
ini. Menurut kaca mata mereka, UN tidak pantas dijadikan parameter tunggal
dalam menentukan kelulusan. Apa artinya mengenyam pendidikan selama 3 atau 6
tahun jika hanya ditentukan oleh nilai UN. Bagaimana dengan perolehan nilai
raport, apakah hanya sebatas konseptualisasi belaka? Itulah beberapa komparasi
kiranya menjadi pertimbangan kemdikbud hingga metode UN dua tahun terakhir
mengalami revisi. Mulanya, UN diindikasikan sebagai satu-satunya parameter
penentu kelulusan, tapi
skip to main |
skip to sidebar
LinkedIn
Rabu, 23 Mei 2012
Kamis, 29 Maret 2012
Style Malam Jumat, Hati Malam Minggu
Ketika melihat seseorang yang berambut gondrong,
pakai kaos oblong, celana bolong-bolong, pasti dibenak saya otaknya juga
“dong-dong”. Maaf ini subjektivitas penulis. Anggapan itu telah merasup
keseluruh sel-sel darah saya yang menggunakan parameter diatas untuk
mengeneralisir citra negatif orang-orang
dengan ciri tersebut. Style yang demikian menurut saya adalah aktualisasi
“kekampungannya” yang melekat dalam diri orang itu. Selain itu, saya juga
mengidentikannya sebagai aktor anarkism, melihat dandanan khasnya tak ubahnya
preman. Segala bentuk kesan negatif tercurah pada mereka yang memiliki ciri
diatas.
Selasa, 27 Maret 2012
Jangan Jadi Mahasiswa Parokial
Demonstrasi
seolah menjadi trend masa kini.
Mungkin salah satu penyebabnya akibat inkonsistensi konsep demokrasi.
Pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat, kini hanya tinggal sebuah
dongeng. Banyak terjadi penyimpangan. Diranah pemerintahan, seakan tak pernah
lepas dari berbagai skandal yang kemudian menjadi pergunjingan hangat dilingkup
media. Korupsi misalnya. Pemberitaannya tak pernah luput dijagat media. Tak
jarang pula menjadi headline bahkan top of the top. Institusi pemerintahan
menjadi lahan subur bagi tikus-tikus berdasi memijakkan kakinya. Hingga tak
heran, sebagian besar kasus korupsi dilakukan oleh pejabat pemerintah dari
level tinggi hingga Pegawai Negeri Sipil (PNS) sekalipun. Akibatnya, rakyat
kecil semakin tertindas, sedangkan si koruptor sibuk dengan rekening
“gendutnya”.
Skandal
inilah yang kemudian memicu pergerakan masyarakat untuk berpartisipasi dalam
menuntaskan kasus itu. Demonstrasi menjadi pilihan. Dimana-mana terjadi unjuk
rasa. Mahasiswa pun terlibat didalamnya. Aksi protes terhadap kebijakan
pemerintah gencar dilakukan. Tak jarang pula diwarnai aksi anarkis.
Sekarang
ini, penolakan rencana kenaikan harga BBM menjadi isu hangat. Demonstrasi tak
dapat dibendung. Hampir seluruh wilayah di Indonesia turut dalam aksi. Etika
demo sudah mulai diabaikan. Banyak kasus baru yang timbul akibat ketidakpahaman
etika dalam demonstrasi. Perusakan terhadap sarana umum, bentrok dengan aparat
pemerintah, seakan menjadi hal biasa. Padahal, demo semestinya dilakukan dengan
santun, agar aspirasi yang hendak disuarakan didengar oleh pemerintah. Bukannya
malah merusak sarana umum, melempar gedung atau memblokade jalan diiringi
dengan aksi membakar ban. Ini mencerminkan bahwa kecerdasan emosional mahasiswa
masih rendah.
Sebagai
kaum intelektual, sebaiknya tahu dan sadar apa maksud dan tujuan dari kegiatan
yang diikutinya sebelum melakukan demo. Banyak demonstran, khususnya mahasiswa
tidak memahami apa yang ia tengah lakukan. Mereka cuma ikut-ikutan. Tak sedikit
pula yang menjadi korban mobilisasi para aktivis ataupun kelompok kepentingan
untuk turut dalam aksi. Ketidakpahaman inilah yang kemudian menimbulkan tindak
kekerasan. Memang, demo merupakan wujud demokrasi. Tetapi apabila
disalahtempatkan, konsep demokrasi bisa berubah menjadi demo-crazy.
Cukuplah
petinggi negeri ini yang “cacat”. Tugas kita sebagai mahasiswa, bagaimana
membangun kondisi yang kondusif dan mereduksi kekeliruan petinggi negeri dengan
cara yang cerdas. Tindak kekerasan bukanlah solusi tepat. Jangan menjadi mahasiswa kampungan yang hanya
bisa berkoar-koar tanpa maksud yang jelas. Tinggalkan parokialisme. Bangunlah
budaya partisipan.
Coba
analogikan. Negara ini kita ibaratkan sebagai sebuah keluarga besar. Para
koruptor anggaplah sebagai orang tua, sedangkan kita (mahasiswa) sebagai anak
yang banyak jumlahnya. Jika orang tua kita tengah stres dan perilakunya
menyimpang dari Undang-Undang, kita jangan ikut merengek-rengek atau mengacau
terhadap mereka. Bukan solusi yang kita dapat, melainkan bentakan beruntun dari
mereka. Walau mereka salah, jangan lawan dengan kekerasan. Berusahan bersikap
bijak dalam menghadapi persoalan. Teguran boleh kita layangkan, tetapi jangan
dibarengi dengan aksi kekerasan. Ada pepatah mengatakan, api akan semakin
berkobar jika dilawan dengan api, sebaliknya api hanya dapat dipadamkan oleh
air. Seperti itu pula negara ini. Sebagai mahasiswa, jadilah warga negara yang
santun. Partisipasi sangat perlu. Tapi partisipasi yang diperlukan adalah
partisipasi yang berdasarkan kesadaran, bukan karena dorongan pihak tertentu
dan bukan pula karena ikut-ikutan.
Unjuk
rasa atau demonstrasi sah-sah saja dilakukan, asal berdasarkan kode etik.
Perlihatkan bahwa mahasiswa adalah generasi cerdas dan santun dalam menyuarakan
pendapat, sehingga ada perbedaan antara mahasiswa dan masyarakat awam pada
umumnya. Dapat dibedakan mana yang intelek dan mana yang parokial. Jadilah
panutan dalam masyarakat. Sebisa
mungkin, hindari segala bentuk kekerasan dan ketidak-etisan. Jangan jadi
mahasiswa “cerewet” yang kerjanya hanya memprotes kebijakan pemerintah.
Tunjukkan keintelektualan kita. Ada baiknya kita menerapkan slogan salah satu
iklan “talk less do more”. Jangan
cuma banyak bicara. Buatlah keputusan sebijak mungkin sebagai solusinya. Ingat!
Kita mahasiswa, bukan tukang bakar ban atau bukan penjual obat yang hanya berkoar-koar
disepanjang jalan.
Langganan:
Postingan (Atom)
Calendar
Jumlah Pengunjung
About Me
Followers
Labels
- anak emas (1)
- Ayam (1)
- BBM (1)
- Belajar (1)
- Berita (2)
- Budi Mukti (1)
- CCTV Online (1)
- Danau Talaga (1)
- Demokrasi (1)
- Demonstrasi Mahasiswa (1)
- Dikti (1)
- Generasi Emas (2)
- Grand Design (1)
- Hardiknas (1)
- Iklim Politik (1)
- Ilmu Komunikasi (1)
- Indonesia (1)
- IP Camera (1)
- Jurnal Ilmiah (1)
- Jurnalistik (1)
- Karakteristik Berita (1)
- Kebanggaan (1)
- ketidakadilan (1)
- KKN (1)
- konsistensi (1)
- Lasakka (1)
- Liburan (1)
- Lomba Menulis (1)
- Mass Media (1)
- Mid Semester (1)
- Multimedia (1)
- Online Monitoring (1)
- Opini.co.id (1)
- Pencinta Alam (1)
- Pendidikan Anti Korupsi (1)
- Pendidikan Karakter (1)
- Pendidikan Tinggi (1)
- Perguruan Tinggi (1)
- prestasi (1)
- prioritas (1)
- Public Relations (1)
- SMKN 2 Palu (1)
- SNMPTN (1)
- Speedy Monitoring (1)
- Surat Cinta (1)
- Teknologi Komunikasi (1)
- Touna (1)
- Universitas Tadulako (1)

