http://winest-wirmayani.blogspot.com/2013/04/budaya-galau-mahasiswa-vs-tipologi-dosen.html

Rabu, 06 Januari 2016

Dear Future, I’m Here For You



 “One Year Has Passed, and Hope All Wishes In This New Year Will Come True”

Jika sebagian orang merayakan pergantian tahun dengan berkumpul bersama kerabat, bersorak-sorai menyaksikan pesta kembang api, mungkin sedikit agak berbeda kondisinya dengan saya. Iya, saya merayakan kok, hanya saja caranya yang berbeda. Duduk manis di kamar, mendengarkan sejumlah lagu favorit, menambah konten scrapbook dan me-review semua peristiwa yang tertulis di buku harian (diary dengan tulisan tangan) selama tahun 2015, tanpa mempedulikan seberapa bising suara dentuman kembang api dan petasan di luar sana. Mungkin sebagian orang akan menganggap saya old-fashioned girl. Who cares. Hanya orang yang mengenal pribadi saya dan hanya orang-orang introvert-lah yang akan mengerti.

Ada banyak hal yang terjadi di tahun 2015. Kurang “pas” rasanya jika  saya tulis disini. Lalu, bagaimana dengan pencapaiannya? Setelah saya kalkulasikan (menggunakan alat ukur khusus tentunya) antara resolusi tahun kemarin dan pencapaiannya, ternyata hasilnya jauh dari yang saya harapkan. Ya, hanya sekitar 72-73 persen saja. Padahal, standar minimum saya 90 persen. Walah.. walah. Bisa dikatakan 2015 kemarin rapor merah buat saya. Kalau orang Bali bilang “samrag”. Nah, bagaimana dengan resolusi tahun ini? Ada beberapa item yang masuk dalam daftar resolusi saya di tahun 2016. Sekilas terlihat sederhana, tapi tingkat kesulitannya jauh lebih tinggi dari tahun kemarin. Whatever, semasih ada keyakinan dan optimisme untuk hal itu, tidak menutup kemungkinan hal yang dicita-citakan akan dapat terwujud.

Anyway, beberapa waktu lalu saya sempat melakukan “observasi” kecil-kecilan di akun media sosial. Tersebutlah ada sebuah akun yang menarik perhatian saya. Ketertarikan saya bermula ketika pemilik akun tersebut beberapa kali meluangkan (sedikit) waktunya untuk membaca tulisan-tulisan ringan yang termuat dalam buku harian digital saya. Setelah mengamati beberapa hal, termasuk mengumpulkan data, menghubungkan hal-hal yang terkait dan pada akhirnya membuahkan beberapa hipotesis. Salah satu dari sekian hipotesa itu menggambarkan bahwa pemilik akun tersebut adalah sosok yang cerdas, baik, knowledgeable, analitis, visioner, selektif dan cool. Mungkin saja pemilik akun yang saya maksud, saat ini tengah membaca tulisan ini lalu ia tersenyum simpul karena saya bisa menebak “sedikit” tentang kepribadiannya. <bigsmile> Saya ucapkan salam kenal untuk Anda. Terima kasih. Glad to have a friend like you.

Well, semoga pencapaian tahun 2016 ini jauh lebih baik dari tahun sebelumnya. New year, new hopes, new me and new story. Semoga Tuhan Yang Maha Pengasih turut menyertai dan memperkenankan semua item yang tercantum di dalam daftar resolusi 2016 dapat terlaksana secara maksimal. Semoga.

Selasa, 22 Desember 2015

Smartphone, Smartgirl and Sex



Beberapa hari lalu saya kedatangan sepupu perempuan saya yang masih duduk di bangku SD kelas 1. Ia baru saja berulang tahun yang keenam.  Kedatangannya disini untuk berlibur seusai ujian semester. Anaknya ramai, mudah bergaul, cerdas dan melek teknologi. Kami berdua cukup akrab. Mungkin karena saya sering membuatkan ia makanan-manakan yang saya sajikan dengan bentuk yang menarik atau mungkin karena saya sering bertindak jenaka, hingga ia betah dan nyambung berkomunikasi dengan saya. Misalnya saja jika saya punya waktu luang dan saya hanya berdiam diri di rumah. Reduktor alternatif kebosanan saya adalah 3M. Masak, musik dan make-up. Dapur adalah tempat saya bereksperimen membuat camilan dan dessert. Saya juga menyukai musik, walau saya sadar dan teramat sadar jika suara saya jauh dari predikat merdu. Selain itu, saya juga kerap mendandani diri membuat cosplay ala tokoh-tokoh tertentu dan berekspresi di depan cermin. Inilah yang menyebabkan beberapa item make-up saya cepat habis. Jika orang dewasa yang tidak mengenal saya melihat tindakan itu, mungkin mereka akan berpendapat jika saya orang aneh, stres atau kurang kerjaan. Tapi dari perspektif anak-anak, hal itu merupakan sesuatu yang mengasyikan dan lucu. Well, back to the topic.

Seperti biasanya, ia selalu mengawali pembicaraan kami. Saya yang sedang duduk manis di kursi di ruang belajar harus membagi konsentrasi antara mengerjakan feature yang tenggat waktunya tinggal dua hari lagi dan mendengarkan cerita dari anak ini. Sebenarnya, jika saya sudah berada di ruang belajar, saya tidak ingin diganggu oleh siapapun kecuali ada hal yang sangat penting. Berhubung ia masih anak-anak, saya pun memakluminya. Ia terus melanjutkan ceritanya mulai dari aktivitasnya di sekolah, teman bermainnya di rumah, ataupun mengulas hal-hal yang ia sukai. Sesekali saya menatap matanya dalam-dalam dan berhenti sejenak dari aktivitas saya agar ia merasa dirinya dihargai dan diperhatikan karena saya dengan setia mendengarkan ceritanya. Terkadang saya tertawa lepas mendengar ia bercerita yang disampaikan dengan bahasanya yang amat polos dan jenaka. Ah, ada-ada saja cara anak ini untuk membelah konsentrasi saya. Dia pun terus, lagi dan lagi bercerita, hingga saya sudah mulai kesal karena konsentrasi saya menyelesaikan feature nyaris buyar.

Berselang beberapa menit, suasana menjadi hening seketika. Inilah kesempatan saya untuk mengerjakan feature sambil waspada menunggu ia akan ngoceh kembali, layaknya menguji kesabaran saya. Sudah hampir dua menit menunggu dan ternyata belum ada sepatah kata pun yang keluar dari bibirnya. Sudut mata kiri saya bisa menangkap raut wajahnya yang tampaknya sedang memikirkan sesuatu. Saya tetap diam, seolah hanya fokus pada komputer.

Ternyata dugaan saya benar. Ia menanyakan suatu hal. Saya merasakan nafas saya tertahan beberapa detik persis seperti saat melakukan kumbaka. Tahukan Anda apa yang ia sampaikan? Ia

Sabtu, 21 November 2015

Bersabarlah, Anak Gadismu Sedang Memantaskan Diri




Sederet pertanyaan “siapa pacarmu”, “mana pacarmu”, atau yang paling sadis “kapan nikah” adalah beberapa pertanyaan sarkastik yang akhir-akhir ini banyak tertuju kepada saya. Teman, kerabat, bahkan sosok cool yang saya kenal tabu membahas perihal cinta kini mulai angkat bicara. Ada pula sosok yang paling gencar menyuarakan larangan pacaran, kini malah menuntut hal itu. Saya jadi bingung dengan semuanya, revolusi macam apakah ini?

Ya, Ibu dan Bapakku. Mereka adalah dualisme yang saling melengkapi. Ibu yang eksrovert dan Bapak si introvert. Mereka berdua adalah tim yang solid. Kerjasama dan kekompakan mereka layak diapresiasi. Hal itu terbukti bahwa mereka sukses membuat dan menjalankan peraturan larangan pacaran yang ditujukan kepada saya selama masa studi berlangsung. Saya bulanlah sepenuhnya pribadi penurut. Saya lebih banyak menggunakan otak kiri. Sebelum menyetujui peraturan yang mereka luncurkan, saya menanyakan alasannya terlebih dahulu. Mereka beralasan, pacaran bisa mengganggu prestasi akademik di sekolah, karena persentasi konsentrasi belajar terbagi dengan aktivitas pacaran. Selain itu, degradasi moral juga menjadi salah satu alasannya. Karena usia remaja adalah transisi menuju dewasa, rentang usia yang rawan dan umumnya labil. Banyak pelajar yang tidak lanjut studinya karena pacaran yang tidak sehat. Logis! Logika saya dapat mencerna semua alasan itu, apalagi mereka menyertakan testimoni dalam propagandanya. Saya pun menikmati masa-masa studi tanpa pacaran. Berdasarkan pengamatan saya, sebenarnya ada beberapa pribadi yang cukup menarik, akan tetapi saya hanya bisa mengaguminya dari kejauhan dan dengan beberapa pertimbangan, saya tetap menarik diri dari pacaran. Ibu dan Bapak selalu mengingatkan larangan pacaran ini repetitif, hampir pada setiap kesempatan.

Entah mengapa semua itu kini mengalami perubahan yang signifikan. Ibu yang dulunya gencar menyuarakan larangan pacaran kini terang-terangan menanyakan jika saya sudah memiliki pacar atau belum. Yang paling sulit saya cerna dengan logika, bagaimana mungkin si Bapak yang saya kenal supel dan pendiam serta tabu membicarakan hal yang berbau cinta, kini malah menyerang dengan pertanyaan itu. Apakah batang usia saya sudah terlampau tinggi hingga saya layak dan teramat pantas disuguhkan pertanyaan bernada desakan seperti itu?

Bapak, Ibu, perlu kalian ketahui, anak gadismu sedang dalam upaya memantaskan diri. Kalaupun saya belum pacaran, bukan berarti saya tidak berupaya untuk mengarah kesana. Bapak, Ibu, masih banyak hal yang perlu saya pelajari agar benar-benar menjadi seorang wanita yang matang dalam menjalani masa grhasta nantinya. Tidak inginkah kalian memiliki cucu yang diasuh oleh seorang ibu cerdas?  Tidak inginkah kalian memiliki menantu yang bersahabat yang berkepribadian mulia? Tidak inginkah kalian mendengar jika besan kalian nantinya menceritakan kekagumannya atas kepiawaian putrimu? Semua itu sedang saya upayakan. Saya berusaha sebisa mungkin meningkatkan kualitas diri saya. Sekali lagi, saya tidak menunda pacaran. Saya mulai membuka diri. So, slow down and keep it simple!
 
Saya belum sepenuhnya yakin kalian bisa melepas anak gadismu secepat itu. Buktinya saya tak pernah dewasa di mata kalian. Ibu biasanya masih menyuapi nasi jika saya belum makan pada jamnya. Ibu juga masih suka mencubit manja pipi saya. Terkadang cubitannya membuat  saya menjerit kesakitan. Bagaimana tidak, Ibu mencubit pipi yang ada jerawatnya. Begitu juga dengan Bapak yang masih sering mengusap-usap jidatku ketika saya hendak tidur. Secara tak langsung, kalian masih menganggap saya sebagai gadis kecil yang selalu ingin kalian lindungi.

Bersabarlah dulu! Semuanya punya waktu dan semuanya punya porsi masing-masing. Ada saatnya saya akan menggandeng seseorang pria baik dan mengenalkannya kepada kalian. Ada saatnya kalian akan kusibukkan menggelar rangkaian upacara manusa yajna. Ada saatnya kalian akan merasa khawatir sekaligus gembira saat aku mengalami kelemahan tubuh pada trimester awal. Ada saatnya pula kalian akan menimang bayi mungil dan ia akan memanggilmu dengan sebutan “Dadong” dan “Kiyang”. Bersabarlah...

Tak ada yang perlu kalian cemaskan. Bila sudah waktunya, itu semua akan terjadi secara alami. Karena pernikahan bukan hanya perihal ovum dan sperma, tapi lebih kepada keseimbangan antara dharma, artha dan kama. Itulah esensi pernikahan menurut kaca mata saya, anak gadismu yang saat ini tengah memantaskan diri.
x_3badcda6